Dakwah Rasulullah SAW
Dakwah
Rasulullah SAW di medan perang
Ada banyak riwayat
yang mengatakan, bahwa Rasulullah SAW tidak akan memulai peperangan,
kecuali sesudah menyeru terlebih dahulu untuk memeluk Islam.
(Nashbur-Raayah 2:278; Majma'uz-Zawa'id 5:304; Kanzul Ummal 2:298).
Ibnu Mandah dan Ibnu
Asakir telah memberitakan dari Abdul Rahman bin A'idz ra. katanya:
Apabila Rasulullah SAW mengutus pasukannya ke medan perang, terlebih
dahulu Beliau berpesan kepada mereka, katanya: Berlembutlah kepada
manusia, dan jangan memulai sesuatu tindakan, sebelum kamu mengajak
mereka kepada agama Allah. Sesungguhnya tiada penghuni rumah, atau
penduduk kampung, yang dapat kamu membawa mereka kepadaku dalam
keadaan memeluk Islam, itu adalah lebih baik kepadaku dari kamu
membawa kepadaku wanita-wanita mereka dan anak-anak mereka yang
kamu tawan, padahal kamu telah membunuh semua lelaki-lelaki mereka.
(Al-Ishabah 3:152; Musnad Termidzi 1:195)
Pesan
Rasulullah SAW kepada Pasukan Jihad
Riwayat dari Buraidah
ra. katanya: Apabila Rasulullah SAW mengutus satu pasukan, atau
pasukan untuk berperang, ia berpesan kepada ketua atau panglimanya
supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah, khususnya pada diri mereka
dan juga pada semua kaum Muslimin, kata Beliau: "Jika kamu
bertemu dengan musuh kamu dari kaum musyrikin,
ajaklah mereka kepada satu dari tiga perkara, dan kiranya
mereka menerima apa saja dari antara tiga perkara itu, hendaklah
kamu menerimanya dan berhentikan menyerang mereka":
- Ajak mereka untuk
memeluk Islam, jika mereka menerimanya, biarlah mereka memeluk
Islam, dan berhenti menyerang mereka.
- Ajaklah mereka
untuk berpindah dari negeri mereka ke negeri orang yang berhijrah
(yakni negeri Islam), dan beritahu mereka jika mereka setuju,
akan diberi hak seperti yang diberikan kepada kaum yang berhijrah,
dan menanggung hak seperti yang ditanggung oleh mereka. jika mereka
enggan berpindah, dan ingin rnenetap di negeri mereka, maka beritahu
mereka bahwa mereka harus bersikap seperti kaum badui Arab yang
telah memeluk Islam, berlaku ke atas mereka semua hukum-hukum
Allah yang dilaksanakan ke atas kaum yang beriman, dan bahwa mereka
tidak berhak untuk menerima jizyah dan harta rampasan perang,
kecuali jika mereka turut berjihad dengan kaum Muslimin.
- Jika mereka enggan
juga semua tawaran itu, maka berundinglah dengan mereka supaya
mereka membayar jizyah (pajak), jika mereka terima, hendaklah
disetujui dan hentikan serangan kepada mereka. Tetapi, jika mereka
enggan dan menolak juga, maka mintalah bantuan kepada Allah dan
perangilah mereka itu. Kemudian, apabila kamu mengepung penduduk
yang berlindung di dalam bentengnya, lalu mereka memohon supaya
kamu memberikan keputusan kepada mereka dengan hukuman Allah,
maka janganlah kamu menuruti permohonan mereka itu, kerana kalian
tidak mengetahui apa yang akan diputuskan Allah kepada mereka.
Akan tetapi putuskanlah menurut kebijaksanaan kamu, dan tetapkanlah
ke atas mereka sesudah itu apa yang dipandang wajar!
(Muslim 2:82; Abu
Daud, hal. 358; Ibnu Majah, hal. 210, dan Baihaqi 9:184)
Ada beberapa riwayat
yang memberitakan dari Saiyidina Ali bin Abu Thalib ra. bahwa Rasulullah
SAW pernah mengutusnya ke medan perang, dan setelah pasukannya berangkat,
Beliau lalu menyuruh orang mengejar pasukan itu supaya menyampaikan
pesan Rasulullah SAW yang berbunyi: jangan kamu memerangi musuh
kamu sebelum kamu menyeru mereka kepada agama Islam terlebih dahulu.
Dalam pembicaraan yang disampaikan oleh Sahel bin Sa'ad ra. yang
dinukil oleh Bukhari dan lainnya, bahwa Rasulullah SAW berkata kepada
Ali ra. pada peperangan Khaibar: Berangkatlah dengan segera, hingga
engkau tiba di medan perang mereka, kemudian serulah mereka kepada
Islam, dan beritahu mereka apa yang diwajibkan Allah dari hal hak-haknya.
Demi Allah, seandainya Allah berikan petunjuknya kepada seorang
saja di antara mereka di tanganmu, itu adalah lebih baik dari engkau
memiliki unta-unta merah!
Ibnu Sa'ad telah meriwayatkan dari Farwah bin Missik Al-Qathi'i
ra. berkata: Sekali peristiwa aku datang kepada Rasulullah SAW:
"Wahai Rasulullah! Boleh atau tidakkah aku memerangi kaumku
yang enggan memeluk Islam dengan mereka yang telah memeluk Islam",
tanya Farwah. "Ya, boleh!" jawab Rasulullah SAW "Tapi,
wahai Rasulullah!" tambahku, "mereka itu dari keturunan
Saba', mereka terkenal kuat dan berani mati!" aku cuba menerangkan
situasi yang sebenarnya. "Ya, boleh dan aku benarkan kamu memerangi
mereka itu, walaupun mereka Saba' sekalipun!" Rasulullah SAW
mengizinkanku untuk meneruskan cita-citaku itu. Berkata Farwah:
Aku pun meninggalkan majlis Rasulullah SAW itu kembali ke rumah
untuk membuat persiapan. Rupanya waktu itu, telah turun firman Allah
ta'ala yang menjelaskan lagi tentang permasalaan Saba' tadi. Lalu
Beliau menyuruh mencariku dengan mengutus orang untuk memanggilku.
Malangnya aku juga sudah berangkat. Maka utusan itu pun mengejarku
dan mengajakku kembali untuk menemui Rasulullah SAW. Apabila aku
memasuki majelisnya, aku dapati Beliau sedang duduk dan dikelilingi
oleh beberapa orang sahabatnya, lalu Beliau berkata: "Wahai
Farwah! Mulaikanlah dengan menyeru mereka kepada Islam terlebih
dahulu, siapa yang setuju terimalah darinya. Dan siapa yang enggan,
jangan engkau lakukan apa-apa terhadapnya, sehingga datang perintah
Allah kepadaku!". "Ya Rasulullah! Apa itu Saba'?"
terdengar seorang sahabat bertanya, "apakah dia mengenai tanah
Saba' ataupun puterinya?". "Bukan", jawab Rasulullah
SAW. "Dia bukan tanahnya atau puetrinya. Tetapi dia seorang
lelaki Arab yang beranak sepuluh. Enam dari padanya berpindah ke
Yaman, dan empat yang lain berpindah ke Syam". Rasulullah SAW
menjelaskan hakikat Saba' itu. Kemudian Beliau menyambung pula:
"Adapun yang pergi ke Syam, yaitu: Lakham, Judzam, Chassan
dan Amilah", Beliau berhenti sebentar, kemudian menyambung
lagi, "adapun yang ke Yaman, maka mereka itu: Azd, Kindah,
Himyar, Asyfariyun, Anmar dan Mudzhij". Terdengar pula suatu
pertanyaan lagi meminta penerangan, Siapakah Anmar itu?". "Dia
itulah yang dari keturunan Khats'am dan Bujailah", jelas Rasulullah
SAW, lagi.
(Thabaqat Ibnu Sa'ad 2:154, dan Kanzul Ummal 1:260)
Dalam versi Ahmad
dan Abd bin Humaid yang diriwayatkannya dari Farwah juga, bahwa
dia berkata: Aku telah mendatangi Rasulullah SAW meminta izinnya
untuk memerangi orang yang tidak mau memeluk Islam, kataku: "Bolehkah
aku memerangi orang yang enggan memeluknya dengan mereka yang telah
memeluk Islam dari kaumku?". "Ya, boleh", jawab Rasulullah
SAW. "Engkau boleh memerangi orang yang enggan memeluk Islam
itu dengan siapa yang telah memeluk Islam dari kaummu". Setelah
aku pergi, Beliau lalu memanggilku kembali, seraya berkata: "Jangan
engkau memerangi mereka, sehingga engkau menyeru mereka kepada Islam
terlebih dahulu". Tiba-tiba terdengar suara orang bertanya
kepada Beliau, katanya: "Wahai Rasulullah! Saba' itu, apakah
lembah, atau bukit, ataupun apakah dia sebenarnya?". "Bukan
semua itu", jawab Rasulullah SAW, "tetapi dia adalah seorang
Arab yang beranak sepuluh orang anak...". Dan seterusnya sehingga
akhir penerangan Rasulullah SAW seperti yang disebutkan di atas
tadi
(Tafsir Ibnu Katsir 3:531)
Thabarani meriwayatkan
dari Khalid bin Said ra. katanya: Rasulullah SAW pernah mengutusku
ke negeri Yaman, seraya berpesan: Siapa yang engkau temui dari kaum
Arab, lalu terdengar darinya suara azan, janganlah engkau mengganggunya.
Dan siapa yang mendatangi suara azan, ajaklah mereka kepada Islam.
|